Pelayanan Orthopaedi dan Traumatologi RSUP Sanglah di Tengah Pandemi Covid-19
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari Coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini dapat menyerang siapa saja, mulai dari lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak dan bayi, sampai ibu hamil dan ibu menyusui. Lonjakan drastis kasus COVID-19 akibat varian Omicron dalam sebulan terakhir di Indonesia, sempat mencapai hampir 65 ribu kasus pada bulan Februari 2022 yang menyebabkan angka keterisian rumah sakit (bed occupancy rate) kembali meningkat. Dinas Kesehatan Provinsi Bali melaporkan tingkat penggunaan tempat tidur (bed occupancy rate) hingga Minggu (20/2) sebesar 36,06 persen. Jumlah itu untuk isolasi non-intensif di RS rujukan yang merawat pasien Covid-19. Dari kapasitas total tempat tidur isolasi non intensif di 62 rumah sakit rujukan yang berjumlah 2.443 tempat tidur, sudah terisi sebanyak 881 tempat tidur (36,06 %)
Pandemi Covid-19 merupakan masalah yang serius untuk dihadapi dan diselesaikan bersama. Bagaimana tidak, pandemi berdampak pada berbagai aspek kehidupan, salah satunya berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan di bidang Orthopaedi dan Traumatologi. Berbagai upaya telah dilakukan Departemen Orthopaedi dan Traumatologi RSUP Sanglah untuk tetap memberikan pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat meskipun di tengah pandemi Covid-19. Pelayanan yang dilakukan dengan mengedepankan perlindungan terhadap resiko paparan Covid-19 bagi tenaga kesehatan dan pasien. Beberapa langkah telah diambil oleh RSUP Sanglah ataupun Departemen Orthopaedi dan Traumatologi dalam upaya pencegahan Penyebaran Covid-19 dimulai dari skrining hingga tatalaksana di bidang Orthopaedi dan Traumatologi dengan prokes yang ketat.
Pelayanan poliklinik dan tindakan operasi merupakan bagian pelayanan Orthopaedi dan Traumatologi yang paling berdampak karena adanya pandemi Covid-19. Kunjungan pasien ke poli othopaedi dibatasi hanya dengan satu pendampingan. Pasien dan keluarga diwajibkan melakukan prokes yang ketat seperti menggunakan hand sanitizer dan masker sebelum memasuki poli orthopaedi. Dokter yang bertugas di poli orthopaedi diwajibkan melakukan prokes yang ketat dengan menggunakan APD level II yaitu dengan memakai head cap, masker, dan gaun. Beberapa modifikasi ruangan poli juga dilakukan dalam pelayanan seperti adanya garis dan sekat pembatas antara pasien dan dokter untuk mencegah terjadinya paparan virus Covid-19. Tidak lupa cuci tangan dan penggunaan hand sanitizer juga dilakukan dokter sebelum dan setelah kontak dengan pasien.
Perubahan persiapan dan prosedur operasi juga dilakukan oleh RSUP Sanglah dan Departemen Orthopaedi dan Traumatologi. Pada pasien tanpa kedaruratan (operasi elektif) dilakukan skrining terhadap riwayat paparan penyakit Covid-19, juga disertai pemeriksaan Swab PCR untuk memastikan bahwa pasien tidak sedang menderita penyakit Covid-19. Pada kasus emergency (operasi cito) yang tidak memungkinkan dilakukanya skrining dengan Swab PCR, alternatif dengan swab antigen dilakukan. Jika hasil swab antigen negatif, tindakan operasi dapat segera dilakukan dengan prosedur biasa. Akan tetapi sebaliknya jika hasil swab antigen positif, tindakan operasi tetap dilakukan dengan menggunakan protokol covid yaitu dilakukan dengan menggunakan APD level III dan dilakukan di ruang operasi khusus yang bertekanan negatif. Dalam upaya skrining dan pencegahan meluasnya penyebaran covid, RSUP Sanglah rutin memfasilitasi tenaga kesehatannya dalam menyediakan swab PCR rutin bagi nakes yang terpapar Covid-19.



FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA